Koboshi

Kenapa saya membangun Koboshi: aplikasi kosakata untuk orang yang hidup dengan lebih dari satu bahasa

Tersedia juga dalam: العربية · English · Español · Français · 日本語 · 한국어 · Português · ไทย · 中文

Kenapa saya membangun Koboshi

Koboshi adalah aplikasi kosakata untuk orang yang hidup dengan lebih dari satu bahasa. Kamu mencari sebuah kata sekali, lalu Koboshi menampilkan artinya di semua bahasa yang sudah kamu kuasai, menyimpannya, dan memunculkannya lagi untuk diulang tepat sebelum kamu melupakannya, mengikuti jadwal spaced repetition alias pengulangan berjarak (FSRS, keluarga penjadwalan yang juga dipakai sistem kartu hafalan paling serius). Itu seluruh produknya dalam satu kalimat. Tulisan ini bercerita tentang alasan aplikasi ini ada, dan ceritanya cukup personal.

Momen “ah, kata yang itu”

Momen ketika arti sebuah kata akhirnya masuk ke kepala tidak selalu datang dari bahasa yang sama.

Waktu saya mencari kata bahasa Spanyol dan melihat artinya, kadang yang membuatnya klik justru arti bahasa Inggrisnya. Kadang bahasa Inggris tidak membantu sama sekali, lalu arti bahasa Urdu langsung mengunci kata itu. Kadang malah bahasa Jepangnya. Bahasa mana yang membuka sebuah kata tidak bisa ditebak, jadi aplikasi yang hanya menampilkan arti dalam satu bahasa tidak cukup buat saya.

Koboshi menampilkan arti kata di semua bahasamu, berdampingan. Dari situ muncul efek kedua yang baru benar-benar saya hargai setelah lama memakainya: sambil kamu belajar bahasa baru, bahasa-bahasamu yang lebih lemah ikut terlatih. Setiap pencarian kata menjadi satu repetisi kecil untuk mereka. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui; dalam bahasa Jepang kami menyebutnya 一石二鳥 (isseki nichō), satu batu dua burung. Riset pun menunjuk ke arah yang sama dari beberapa sisi sekaligus: bahasa yang kamu pakai waktu kecil hanya tertidur, tidak hilang, dan memanggilnya kembali secara aktif adalah cara membangunkannya.

Bagian heritage speaker ini personal buat saya

Saya besar di Pakistan. Saya berbicara bahasa Urdu seperti penutur asli, karena memang saya penutur asli: ritmenya, aksennya, lelucon-leluconnya, semuanya. Tapi kalau jujur soal kosakata Urdu saya, levelnya sekitar A2, paling banter B1. Mulut lancar, kamus tipis.

Sebagian penyebabnya memang cara bahasa Urdu dipakai sehari-hari: kami terus-menerus menyelipkan kata Inggris ke dalam kalimat Urdu dan semuanya terasa pas, jadi kamu bisa menjadi anggota penuh masyarakat tanpa pernah membutuhkan kosakata asli yang lebih sulit. Banyak orang berpendidikan di sekitar saya punya kecenderungan yang sama; pilihan kata mereka hanya ditopang masa sekolah yang sedikit lebih panjang daripada masa sekolah saya.

Kombinasi itu, terdengar seperti penutur asli tapi kekurangan kosakata, punya nama: heritage speaker, penutur bahasa warisan. Koboshi melayani para penutur bahasa warisan; ada bagian khusus tentang itu di situs ini, dan tulisan yang lebih dalam soal kosakata bahasa warisan sedang disiapkan.

Sebenarnya untuk siapa aplikasi ini

Kalau kamu sudah memegang dua bahasa atau lebih dan sedang menambah satu lagi, Koboshi dibangun persis di sekitar situasimu: bahasa baru digarap serius lewat pengulangan berjarak, sementara bahasa-bahasa lamamu ikut menumpang dan menguat, bukannya berkarat.

Dan kalau salah satu bahasamu adalah bahasa warisan yang akhirnya ingin kamu beri kosakata selayaknya, aplikasi ini memang untukmu. Enam bulan lagi, kejutkan teman dan keluargamu di belahan dunia lain.

Kalaupun kamu tidak punya bahasa warisan, Koboshi tetap bisa kamu pakai, dan manfaatnya hampir sama besar dengan yang dirasakan para penutur bahasa warisan. Kamu tetap belajar bahasa baru sambil menguatkan bahasa lain yang sudah kamu pegang. Bahkan kalau ini bahasa asing pertamamu, Koboshi tetap berguna sebagai mesin belajar sekaligus kamus pribadimu.

Cerita asal-usul yang sebenarnya: proyek ChatGPT yang pelupa

Sebelum Koboshi ada, sistem saya adalah sebuah proyek ChatGPT. Setiap kata baru yang saya temui masuk ke chat itu. Sebagian besar datang dari Duolingo: aplikasi itu mencatat kata-kata dari pelajarannya, tapi latihan menyimaknya terus memberi saya kata-kata baru di luar catatan itu, dan saya ingin menyimpannya juga.

Cara itu berjalan, kira-kira dua sampai tiga bulan setiap putarannya. Lalu chat-nya penuh. Sebuah percakapan punya batas memori (disebut context window), dan begitu batas itu tercapai, isi paling lama diam-diam terbuang. Kata yang sudah saya simpan baik-baik hilang begitu saja. Terpaksa saya membuka chat baru di proyek yang sama dan mulai menumpuk dari nol lagi.

ChatGPT dengan senang hati menawarkan ekspor semuanya ke spreadsheet, dan itu tidak menyelesaikan apa-apa: batas memorinya masih di sana, dan tidak ada orang di tahun 2026 yang menghafal kosakata dari spreadsheet. Yang saya butuhkan bukan sekadar tempat penyimpanan. Saya butuh mencatat sebuah kata dalam gerakan yang sama dengan saat menemuinya, lalu mempelajarinya di tempat yang sama juga, dengan pengulangan yang jalan sendiri lewat jadwal, bukan lewat tekad.

Membangun hal seperti itu baru saja menjadi mungkin untuk satu orang. Jadi saya bangun. Koboshi adalah alat yang saya harap ada selama siklus tiga bulanan itu: cari katanya, lihat artinya di semua bahasamu, kata itu tersimpan sendiri, lalu kembali menguji kamu tepat sebelum kamu kehilangannya. Namanya datang dari 起き上がり小法師 (okiagari koboshi), boneka kecil Jepang yang bangun lagi setiap kali jatuh, dan dari 取りこぼし (torikoboshi), hal-hal yang lolos dari genggaman justru saat kamu berusaha memegangnya. Kata yang sudah kamu cari, lalu hilang. Persis itulah yang diselamatkan aplikasi ini. Selera penamaan yang sangat gaijin, orang asing yang terpikat hal-hal Jepang. Dan ya, itu memang saya.

Ke mana arahnya dari sini

Koboshi masih muda, dan setiap minggu menjadi lebih baik. Kalau situasi yang saya ceritakan tadi terasa seperti ceritamu juga, coba sekarang dengan beberapa kata yang kamu temui hari ini.

Tentang terjemahan ini

Versi bahasa Indonesia ini ditulis ulang dari dua naskah asli sang penulis, versi bahasa Inggris (original) dan versi bahasa Jepang (日本語版), yang keduanya ia tulis dan periksa sendiri faktanya. Penerjemahannya dibantu AI dengan aturan gaya khusus bahasa Indonesia, sementara semua angka dan rujukan dibiarkan persis seperti di sumbernya. Kalau ada kalimat yang terasa janggal, kabari kami di support@koboshi.app.